PROFIL

KISAH PERJALANAN SEORANG PELUKIS KALIGRAFI

“ABDUL ROCHIM”

Oleh: Faizal Haaq (Wartawan Pelita)

Abdul Rochim, lahir di Karanganyar tanggal 5 Oktober 1958. Merupakan anak ke 4 dari 8 bersaudara dari putra Bapak almarhum KH. Mas’ud.

Sejak kecilnya ia dididik dan dibesarkan dilingkungan keluarga yang teguh didalam menjalankan ajaran Islam. Dari sekolah TK sampai SMTA nya memang sengaja ayahnya di masukkan di sekolah pendidikan Islam, juga termasuk putera – puteranya yang lain. Tujuannya tidak lain adalah agar supaya anak – anaknya mendapatkan banyak ilmu Agama Islam sebagai bekal nantinya setelah menjadi dewasa nanti. Sudah menjadi kebiasaan Abdul Rochim sehari – hari sekolah di pendidikan formal kalau malam belajar mengaji di Masjid yang tidak jauh dengan rumahnya. Dengan latar belakang inilah ia banyak dipengaruhi hal – hal yang bersifat religius, sehingga mempengaruhi dalam setiap tingkah laku kehidupannya sehari – hari. Disamping itu ia sangat gemar melukis, yang rupanya sudah merupakan bakat pembawaan yang dimilikinya sejak lahir.

Tanpa bimbingan orang lain ternyata ia mampu berkarya dengan baik. Ia masih teringat sewaktu duduk di bangku TK sudah mampu melukiskan tentang tingkah laku pamannya yang bernama Ashudi yang menjadi tentara di Surabaya. Beliau gugur di medan perang sewaktu pemerintah RI merebut kembali Wilayah Irian Jaya dari Tangan Belanda yang dikenal dengan peristiwa TRIKORA tahun 1963.

Tetapi sayang lukisan yang diciptakan pada masa – masa tersebut tidak tersimpan dan hilang tak diketahui kemana arah perginya. Tahun 1971 Abdul Rochim mulai mengenal tulisan arab dan belajar menulis indah dari ayahnya yang kebetulan salah satu guru disekolahnya. Tahun 1974 belajar menulis Arab indah, kemudian belajar kepada pamannya bernama Mujahid. Dan kakeknya bernama K.H. Muh. Yusak di Ngawi Jawa Timur yang kini ketiganya sudah almarhum, yang akhirnya la harus belajar sendiri tanpa bimbingan orang lain. Dengan proses yang panjang alhamdulillah bisa berkembang dan pernah membawa sukses di dalam dunia Kaligrafi.

Abdul Rochim pernah menyelesaikan sekolahnya di PGA Muhammadiyah pada tahun 1976 di Ngadiluwih, Matesih Karanganyar. Pada tahun 1977 sampai dengan 1988 ia merantau mencari pengalaman kerja di Jakarta kemudian Sumatera Selatan (Bandar Lampung) kemudian pada tahun 1979 kuliah di Universitas Sebelas Maret Surakarta pada Fakultas Sastra jurusan Seni Rupa sehingga lulus tahun 1985. la menikah tahun 1983 walaupun waktu itu la masih kuliah sedangkan istrinya baru lulus sekolah di PGA Negeri Surakarta, kemudian la diangkat oleh pemerintah menjadi Guru Agama Islam di SD Negeri Ngemplak 3 Karangpandan Karanganyar hingga sekarang. Abdul Rochim telah di karuniai 4 orang anak yaitu :

  1. Dewi Milasari Wuryandari sudah lulus sarjana seni rupa UNS Surakarta
  2. Effy Alexandri Lutfi duduk di bangku kuliah semester akhir Pendidikan Olahraga UNS Surakarta
  3. Leska La Tansa Dina baru lulus dari SMK Negeri 9 Surakarta
  4. Wafa Amrina Rosyada duduk di kelas III Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Karanganyar

Abdul Rochim dengan berbagai macam pengalamannya terutama dalam bidang seni: baik seni rupa, seni musik, seni sastra, seni theater dan sebagainya. Tentunya seni yang menyangkut islam toh akhirnya la hanya menekuni bidang seni rupa, terutama seni lukis Kaligrafi Arab yang telah dipilihnya sejak ia mulai mengenal tulisan arab hingga sekarang. Karena kaligrafi tersebut merupakan salah satu bagian kehidupannya. Sekalipun demikian ia tidak menolak kalau disuruh melukis obyek yang lain misalnya: Lukisan Potret, Lanskap dan sebagainya.

Beberapa yang sempat saya tulis sewaktu menulis wawancara disanggar “Leska Gallery” yang menyangkut kegiatannya sebagai pelukis Kaligrafi. Tahun 1980 pernah mengajar mata pelajaran kesenian di MTsN Filial Negeri, SMA Cokrominoto, SMA Sultan Agung di Karanganyar hingga tahun 1984. Tahun 1985 dinyatakan Lulus Sarjana dari kuliahnya dan diwisuda, setelah tamat kuliah ia bekeria sebagai Disainer Dekorasi di PT “HAKITA BHARAT VELVEST INDUSTRY” Jakarta, tetapi ia tidak bertahan lama, la akhirnya kembali ke Solo.

Tahun 1986 mengajar di SMA dan MA “AL – ISLAM” di Surakarta hingga tahun 1991, disamping mengajar ia menjadi wakil Kepala Sekolah pada bagian kurikulum di SMA “Al – Islam” 3 Surakarta disamping kegiatan sebagai guru ia mempunyai kegiatan khusus dalam bidang seni lukis. Sewaktu la masih duduk di bangku kuliah la aktif mengadakan kegiatan pameran karya seni lukis baik didalam maupun diluar kampus bersama rekan – rekannya serta para pelukis senior di Solo.

  • Mulai tahun 1980 sampai dengan tahun 1986 sering mengadakan pameran tunggal maupun bersama di Solo dan sekitarnya.
  • Tahun 1984 mengikuti pameran bersama Keluarga Mahasiswa Seni Rupa (KMSR) UNS Sebelas Maret di gedung P dan K Surabaya.
  • Tahun 1985 mengikuti lomba dan pameran kaligrafi tingkat ASEAN di negara Brunei Darussalam.
  • Tahun 1986 mengikuti pameran Kaligrafi Islam pada Muktamar Muhammadiyah ke 41 di Solo.
  • Tahun 1987 sampai dengan tahun 1988 pernah berhenti dalam kegiatan melukis, dikarenakan kesibukan oleh kegiatan mengajar di Yayasan Perguruan Al – Islam di Solo (SMA / MA)
  • Tahun 1989 mulai melukis lagi sekalipun kurang produktif
  • Tahun 1990 mengikuti pameran Kaligrafi Islam digedung Persaudaraan Djama’ah Haji (PDHI) pada Muktamar Muhammadiyah ke 42 Yogyakarta.
  • Tahun 1991 mengikuti pameran kaligrafi di Benteng Verdeburg pada MTQ Nasional ke 16 di Yogyakarta.
  • Tahun 1991mengikuti pameran dan bazar seni kaligrafi pada Festival Istiqlal 1991 di Jakarta.
  • Tahun 1992 mengikuti pameran bersama di Balai Budaya Jakarta.
  • Tahun 1993 mengikuti pameran di Graha Pemuda Jakarta.
  • Tahun 1994 Pameran bertiga di Kerawang Jawa Barat.
  • Tahun 1995 mengikuti pameran bersama di Banda Aceh pada Muktamar Muhammadiyah ke 43.

Memang sudah menjadi rencana Abdul Rochim setelah lulus kuliahnya ia ingin mengembangkan karirrnya di Jakarta, tetapi rupanya rencana tersebut belum terwujud walaupun saat itu tahun 1986 sudah mulai dirintis di Jakarta, ia bekerja sebagai desaigner disebuah pabrik karpet milik orang Bombay (India) karena merasa tidak betah dengan kehidupannya di Jakarta terpaksa la harus kembali ke Solo dan harus mengajar di SMA Al – Islam Surakarta sehingga tidak terasa sudah 6 tahun dilaluinya. Memang rupanya Allah belum menghendaki niatnya ingin menjadi seniman yang sukses.

Dengan niat Bismillah dan kemauan yang kuat pada tanggal 12 Oktober 1991 ia mulai menginjakkan kakinya untuk mengadu nasibnya di Jakarta lagi dan rela meninggalkan keluarganya, serta kegiatannya sebagai guru dilingkungan Yayasan Perguruan “Al – Islam” di Solo. Saat itu sedianya la akan pulang ke Solo untuk mengambil keluarganya sekalipun istrinya sudah menjadi pegawai negeri. Tetapi rupanya Allah telah menghendaki lain la harus bekerja mondar mandir dari Solo ke Jakarta karena urusan birokrasinya sangat sudah untuk memindahkan istrinya ke Jakarta. Sewaktu penulis menanyakan tentang rencana program apa yang akan ditempuh kalau ingin menjadi pelukis terkenal sesuai dengan cita – citanya. Memang diakuinya selama ini ia masih belum dikenal oleh publik. Tetapi ia optimis dengan kemauannya ia yakin akan segera di kenal oleh masyarakat khususnya di Ibu Kota Jakarta. Oleh karena itu ia harus merintis dari bawah dulu agar proses perialannya bisa stabil dan lancar, beliau memang tergolong orang yang sabar dan ulet di dalam menghadapi semua permasalahan yang ada, khususnya dikota Jakarta ini yang masyarakatnya sangat komplek sekali, dan mereka kebanyakan pendatang dengan Tatar belakang budaya yang berbeda – beda dan mempunyai peradapan yang berbeda pula.

Selanjutnya program awal yang ia tempuh adalah mendirikan sebuah sanggar yang diberi nama LESKA GALERY yang merupakan cabang yang telah la dirikan di Karanganyar Solo. Yang alamatnya di koplek Masjid “Assalam” JI. Akasia perumahan Pondok Hijau Permai Bekasi Timur Telp. (021) 8228166 Leska sebuah nama diambil dari salah satu nama lembaga yang ada di Pondok pesantren “Al – Hikmah” Ngadiluwih yang didirikan oleh ayahnya pada tahun 1975, karena dalam Pondok Pesantren tersebut beberapa lembaga seperti Bahasa Arab, Lembaga Bahasa Inggris, Lembaga Komputer, lembaga Seni Kaligrafi Al – Qur’an (LESKA) dan lain sebagainya. Sehingga istilah “Leska” diabadikan dengan memberikan nama anaknya yang ke 3 yang nama lengkapnya “Leska La Tansa Dina” istilah Leska bisa diambil dari kata / kalimat dalam Al – qur’an Laisa Laka artinya bukan milikmu. La Tansa artinya bukan milikmu, Addin/Dina artinya Agama Islam.

Didalam sanggar itulah sebagai pusat kegiatan untuk berkreativitas dibidang seni lukis, dan memberikan training kepada siapa yang berniat untuk belajar melukis. Kebanyakan anggotanya anak – anak remaja masjid yang kebetulan belum punya pegangan kerja.

Untuk tahap ke dua la lebih banyak mempelajari seni dekorasi masjid yang medianya kaligrafi arab. Walaupun demikian la tidak meninggalkan karya seni lukis, karena semua profesi itu merupakan bagian dari kehidupannya. Sehingga banyak karya lukis la ciptakan semenjak kuliah sampai saat sekarang ini. Dan tidak sedikit karya –karyanya dikoleksi oleh beberapa pribadi, pejabat tinggi negara RI, seperti Bapak Tri Sutrisno (Mantan Wapres), Bapak Faizal Tanjung (Mantan Pangab), Bapak Sutopo (Mantan Sekretaris Wapres), Bapak Abdullah Maky (Mantan Rohis TNI) dan sebagainya disamping itu juga beberapa artis ibu kota juga ada mengkoleksi hasil karyanya seperti: Choirul Umam (sutradara film), Miing, Didin, asmuni (Pelawak Bagito), Puput Novel, Jakky Zimah (penyanyi), dan sebagainya juga beberapa pribadi yang lain tidak hafal menyebutkannya.

Semua karya tersebut merupakan hasil kerja keras beliau yang sering mengadakan kegiatan pagelaran / pameran baik pameran tunggal maupun bersama — sama pelukis lain. Sedangkan profesinya sebagai penulis kaligrafi la banyak menciptakan karya — karya interior untuk bangunan masjid yang telah tersebar di Nusantara ini, dari tanah kelahirannya di Solo sampai ke kota — kota besar lainnya. Seperti Yogya, Surabaya, Jakarta, Banyuwangi, Bekasi, Subang, Medan, Aceh, Samarinda, Bontang (Kaltim) sehingga kurang lebih sudah 200 masjid yang pernah la hiasi dengan  KaIigrafi Arab selama ini, termasuk Masjid “Al — Amin” di kota Medan yang dibagun oleh Bapak H. Faisal Tanjung pada tahun 1997 yang pada waktu itu beliau menjabat Panglima ABRI.

Pada usianya yang sudah 52tahun rupanya la lebih berkonsentrasi pada kegiatan proyek yang paling besar yaitu proyek untuk bekal menuju akhirat. la ingin meneruskan rintisan almarhum ayahnya (K.H. Mas’ud) yakni sebuah Yayasan Pendidikan Pondok Pesantren “Al — Hikmah” yang didirkan pada tahun 1975 yang alamatnya di A. AMD no. 10 Dusun Jenggotan Desa Ngadiluwih Kecamatan Matesih Kabupaten Karanganyar Karesidenan Surakarta Propinsi Jawa Tengah. la ingin mengabdikan dirinya di tengah masyarakat yang saat terakhir ini seclang dilanda berbagai macam krisis, diantaranya krisis moral dan krisis kepercayaan. Untuk menjadikan moral / akhlak yang baik memasukkan anak — anak kita di Pendidikan Pondok Pesantren. Dan supaya menjadi orang yang dapat dipercaya hidupkanlah kajian — kajian Islam di Pondok Pesantren, Insya Allah kepribadian kita akan terbentuk jiwa yang jujur  dan dipercaya oleh siapapun.

Akhimya yang dikatakan oleh Abdul Rochim bahwa kegiatan Seninya di nilai sebagai salah satu bentuk ibadah / pengabdian kepada Allah SWT, karena dengan kegiatan tersebut didorong oleh kebutuhan untuk menafkahi keluarganya. Sedangkan dilingkungan Pondok Pesantren ia ingin banyak belajar ilmu dari para Kyai, ustadz, clan sebagainya sekalipun di dalam kepengurusan la termasuk orang yang dipercaya eksistensinya, tentunya di yayasan tersebut la tidak pemah menerima gaji seperti layaknya para pegawai negeri. Memang la belum pernah menjadi pegawai negeri, akan tetapi la selama ini masih bisa menikmati hasil gaji isterinya yang menjadi pegawai negeri. Itulah sebuah kisah perjalanan Abdul Rochim, ia adalah seorang pelukis / seniman, seorang Da’i, seorang calon Kyai didesanya. Dia bukan seorang politikus, bukan seorang ahli ekonomi, bukan seorang ahli astronomi dan bukan seorang paranormal walaupun kadang — kadang dikatakan oleh orang lain up normal, dan sebagainya. Tetapi yang jelas la adalah seorang manusia, bukan hewan, bukan serigala, bukan ayam dan sebagainya.

Wassalam itu semua pernyataan dia sendiri sewaktu penulis mewawancarainya di Galery Leska di Komplek Pondok Pesantren “Al — Hikmah” Ngadiluwih dan silahkan kontak kalau ingin ketemu beliau ke Telp. 085642209456

Jakarta, 05 Agustus 2012

Faisal Haq (Wartawan Pelita)

Alumni Pondok Pesantren

“Darussalam” Gontor Ponorogo Jatim.

 

Sebuah Interprestasi :

Bertolak dari karya yang saya ciptakan mempunyai beberapa kecenderungan antara lain:

Karya – karya tersebut merupakan suatu manifestasi seni lukis abstrak yang menerapkan elemen seni lukis : garis, bidang, warna, tekstur dan sebagainya yang di komposisikan secara terpadu (unity)

Sedangkan kaligrafi merupakan unsur dari elemen tersebut, kemudian lahir secara fisik yang memiliki bentuk yang khas dan di gambarkan secara representasional. Sebagai seniman muslim saya berkarya berpegang pada ajaran islam secara konsekuen, oleh karena itu semua karya – karya yang saya ciptakan hanya merupakan sebuah komposisi artistik. dan disini saya ingin mencoba menyentuh jiwa dengan asosiasi yang bersifat keindahan melalui keheningan, kelembutan yang penuh dengan kedamaian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s