LESKA GALLERY

Lembaga Seni Kaligrafi Al-Qur’an

Melayani Pesanan :

  1. Pembuatan Kaligrafi untuk Interior Masjid / Mushola Dengan Berbagai Media antara lain : Cat Tembok, Cat Minyak, Relief Semen, Ukir Kayu, Kaca Patri, Kaca Blasting, Kuningan, Tembaga, Stenlis Glass, Galvanis, dll.
  2. Penjualan Berbagai Produk Meubel : Meja Makan, SOfa Kepiting, Kaligrafi Ukir, Kaligrafi Lukis, Kaligrafi Tembaga, Souvenir, dll.
  3. Siap Melayani Panggilan Kemana Saja Bersama-sama Team Gallery Yang Sudah Profesional.

Alamat  : Pondok Pesantren “Al-HIkmah” Ngadiluwih, Matesih, Karanganyar, Surakarta, Jawa Tengah Telp. 085642209456

—-===()===—–

MENGENAL SENI KALIGRAFI DAN SENI LUKIS KALIGRAFI

Seni Kaligrafi(Calligraphy)  Callios = Indah, Graph = Tulisan, adalah seni tulis menulis indah yang telah dimiliki oleh setiap bangsa yang mempunyai huruf sebagai lambang visual bahasanya. Di jepang kita akan menyaksikan pepatah petitih atau fatwa pujangga yang ditulis dengan huruf kanji indah yang digantung di tembok – tembok. Di rumah – rumah tauke Cina kita bisa melihat huruf – huruf Cina yang pating clekunik di stilir menjadi bentuk gambar burung garuda, atau liang liong di pasang di tengah – tengah pintu dan diatas pintu berwarna emas atau kain saten merah, di india ada kaligrafi huruf thai, di pakistan ada kaligrafi huruf farisi, di Jawa ada huruf Jawa (honocoroko).

Di negara Timur Tengah yang berbahasa arab ada kaligrafi huruf arab dengan segala ragam stylenya. Juga kaligrafi huruf latin tidak kurang banyaknya.  Pada dasarnya setiap bangsa mempunyai kaligrafi dan mempunyai seniman kaligrafi (kaligrafer) yang mampu menulis halus dan indah dengan gaya dan variasi yang beraneka ragam. Dan itulah yang disebut seni kaligrafi yaitu seni yang khusus tentang tulis menulis halus indah.

Cara dan bentuk huruf dalam kaligrafi niasanya mengikuti aturan permainan yang sudah tertentu. Bentuk biasanya tetap dan tertentu, hanya variasi saja yang bermacam  ragam sesuai dengan perasaan dan rasa seni seorang penulisnya. Bentuk huruf indah dapat dipelajari oleh setiap orang. Tidak harus orang yang berbakat, setiap orang dapat menulis indah sepanjang dia mempelajarinya, memahami lekuk liku tulisan, ini biasanya dipelajari melalui buku pedoman menulis huruf indah (kaligrafi)

  1. 1.      SENI KALIGRAFI

Di dalam surat kabar mingguan “Nung Runua” pernah menulis bahwa seorang pemirsa kaligrafi dari Timur Tengah  yang merasa tercengang dengan kaligrafi model Indonesia. Soalnya memang tidak semacam kaligrafi di negara arab, mesir, dll.

Bahkan secara cermat kadang huruf arab yang dilukis oleh senimannya tidak sempurna (tidak terbaca) karena tidak ada titik beda hurufnya. Hal ini tidak aneh bahwa ketika di adakan pameran kaligrafi dalam rangka MTQ Nasional di Semarang ada pelukis dari Yogya yang buta terhadap huruf arab tetapi bisa berhasil mendapat “sampel” untuk obyek lukisannya.

Dan akhirnya terciptalah lukisan kaligrafi. Namun tidak demikian di negara – negara buah kurma sana, hanya seniman tulis yang mampu dan berani menampilkan karya kaligrfi untuk berpameran. Sebab memang ada style – style khusus dalam kaligrafi arab yang memang sudah baku dan paten. Dan tulisan itu sudah di uji keampuhannya berdasarkan peredaran abad.

Dari sekian ratus bentuk tulisan arab, akhirmya hanya 8 model yang mampu hidup bertahan sebagai style tulisan arab yang diikuti secara internasional. Kedelapan model itu adalah Naskhi, Riq’i, Tsulusi, Farisi, Roikhani, Diwani, Diwani Jali dan Kufi.Sedang lukisan kaligrafi menurut kacamata ahli tulis arab tidak jelas stylenya,apakah itu yang dinamakan kaligrafi style Indonesia. Disini perlu kami jelaskan sebagai berikut:

  1. Style/Gaya Naskhi            5. Style/Gaya Reihani
  2. Style/Gaya Riq’i                6. Style/Gaya Diwani
  3. Style/Gaya Tsulusi           7. Style/Gaya Diwani Jali
  4. Style/Gaya Farisi              8.Style/Gaya Kufi

Di jelaskan di halaman lain (hal.   )

  1. 2.      SENI LUKIS KALIGRAFI

Suatu lukisan yang di gendongi oleh tulisan biasanya di tunjuk sebagai pamflet atau reklame. begitulah penilaian kita setelah mengetahui terminologi seni kaligrafi yang asli .

Beberapa contoh lukisan kaligrafi karya Amri Yahya, Ahmad Sadah, Abdul Jalil Pirous, Affandi, dll. Yang memanfaatkan kaligrafi arab sebagai salah saru media dalam seni lukis. Karya – karya mereka lebih mementingkan aspek seni lukisnya, dimana rasa estetika pelukis dituangkan dalam bentuk garis – garis dan sapuan warna, bidang, ruang, dsb.

Sementara tulisan arab berfungsi sebagai pengisi bidangnya, sebagai kekuatan garis yang ritmis dan dinamis. Sehingga di dalam karya tersebut lebih dominan disebut sebagai karya seni lukis kaligrafi.

Berbeda dengan karya salah satu lukisan asal Surabaya yaitu Amang Rahman, yang lebih menekankan pada filosofis kaligrafi itu sendiri dan kaligrafi merupakan obyek yang ia padukan dengan bentuk – bentuk alam yang aneh.

Berbeda dengan Abdul Rahman Mansyur Dompu yang karyanya memang kaligrafi, soalnya dia menggunakan warna dalam rangka menghidupkan huruf arabnya, Dan style tulisan arab dalam karyanya jelas mengikuti madzab yang sudah baku.

MADZAB SENI LUKIS BARU

Kalau selama ini kita mengenal ada isme – isme dalam seni lukis, seperti naturalisme, realisme, surrealisme, dadaisme,kubisme,abstrak dan sebagainya. Maka dengan adanya huruf arab mencuat dalam kanvas lukisan, kita boleh menghadirkan madzab baru dalam seni lukis di Indonesia, yaitu kaligrafisme. Namun untuk memeriahkan argumen – argimen sebaiknya ada yang memprakarsai suatu sarasehan atau seminar diskusi tentang penamaan aliran yang baru ini, agar tidak terjadi adu urat dalam berbincang – bincang dalam pembahasan perbedaan antara seni kaligrafi dengan seni lukis kaligrafi yang akhirnya harus dipahami secara mendalam.

Kalau belum tahu sejarah seni kaligrafi arab sebaiknya baca – baca dulu sampai lumer, baru berbincang tentang khath dan seni kaligrafi arab. Hal ini tentu saja suatu ajakan ilmiah dan membatasi agar terjadi pengawuran asal ngomong saja tanpa argumentasi yang di dukung oleh pengertian yang mendalam. Seperti orang bicara tentang theater, namun belum mendalami tentang seni pentas mementas yang hasilnya cema argumen – argumen yang tidak mendasar. Untuk theater orang bisa baca karya “Boleslavsky” dan karya – karya W.S Rendra “The Idea of Theatre” atau karya lain yang tidak sekedar repertoar dalam surat kabar. Namun untuk mendalami perihal seni kaligrafi sekarang sudah cukup banyak yang sudah disalin ke dalam bahasa Indonesia seperti karya – karya Sirajudin AR, Misbachul Munir, dll. Juga apa salahnya kalau kita mau membaca buku “Arabic Calligraphy” atau yang berbahasa Arab juga cukup banyak.

Demikian tulisan ini kami sajikan agar para peminat mempunyai pergantian dan dapat membedakan mana seni kaligrafi yang murni dan mana seni lukis kaligrafi.

Surakarta, 05 Agustus 2012

Abdul Rochim, S. Sn

UNSUR KALAMULLAH DALAM SENI  LUKIS KALIGRAFI

Oleh : Abdul Rochim

Pada tulisan di bawah ini saya ingin mencoba menyentuh masalah peranan kaligrafi bag seorang penulis kaligrafi dan pelukis kaligrafi di dalam dunia seni rupa. Seorang penulis kaligrafi sangat berbeda dengan pelukis kaligrafi di dalam menghasilkan karya ciptanya.

Penulis kaligrafi harus dituntut untuk menguasai aturan  – aturan dalam penulisan dengan bermacam – macam jenis Al Khath, sedangkan pelukis kaligrafi hanya mengambil sebagian kecil unsur kaligrafi itu sebagai media ekspresinya. Yang pasti keduanya mempunyai tujuan yang sama, yakni ingin mengagungkan Asma Allah melalui media seni rupa dan memanfaatkan unsur – unsur Kalamullah (Al – Qur’an) dan  Sabda Rasulullah (Hadist).

Di dalam dunia seni rupa pada umumnya masyarakat muslim kurang memperhatikan terhadap perkembangan jenis kesenian tersebut, yang sebenarnya merupakan salah satu kebudayaan yang telah menjadi miliknya. Oleh sebab itu wajarlah para seni rupawan muslim turun tangan ikut ambil bagian untuk menggalakkan seni kaligrafi di kalangan masyarakat Indonesia, terutama pada anak – anak terpelajar yang masih duduk di bangku sekolah.

Di dalam pembinaan menulis kaligrafi (Khath) di Indonesia baru di berikan pada Sekolah/Madrasah  Islam terutama di pondok – pondok pesantren yang kebetulan disana ada kurikulumnya yang mengajarkan untuk menulis arab (Al – Khath), sedangkan di sekolah lain mata pelajaran tersebut tidak diberikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s